Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Januari 2016

Islam Nusantara dan Konflik

Menurut Perspektif Dosen-Dosen IAT UIN Sunan Kalijaga
Muhammad Yusuf Hasibuan (13530119)




Munculnya istilah Islam Nusantara yang diketahui sebagai ciri khas Islam di Indonesia yang mengedepankan nilai-nilai toleransi dan bertolak belakang dengan "Islam Arab" yang  menimbulkan pro dan kontra di kalangan penganut Islam khususnya di Indonesia.
Dalam makalah ini beberapa pendapat menurut perspektif Dosen prodi IAT UIN Sunan Kalijaga.


Pendahuluan
a. Latar Belakang dan Problem Akademik
Beberapa bulan belakangan ini masyarakat digemparkan dengan adanya Islam
Nusantara. Bahkan islam nusantara itu sendiri bukan hanya menjadi topik
pembicaraan di masyarakat indonesia saja akan tetapi di berbagai negara. Islam
nusantara menjadi topik pembahasan baik itu dalam seminar maupun media sosial
yang ada.
Kalau kita perhatikan, selama ini konflik yang dipahami oleh kebanyakan
orang adalah konflik yang ada diluar dari islam nusantara. Yakni, islam nusantara
sebagai sebuah aliran baru. Padahal, Didalam tubuh islam nusantara sendiri kalau kita
kaji, hal itu lebih menarik lagi. yakni, terkait siapa sebenarnya pendiri islam nusantara
dan siapa sajakah yang berada didalam jajaranya? Ada apa sebenarnya dibalik
didirikannya islam nusantara? Dan apakah ada dari internal islam nusantara yang
tidak setuju oleh adanya islam nusantara dan apa alasannya ? untuk itu sangat menarik
meneropong lebih jauh dari perspekti dosen-dosen IAT yang ada di UIN SUNAN
KALI JAGA. Yang nantinya apakah sebenarnya itu bisa di sebut konflik atau tidak.
b. Alasan Memilih Judul Ini
Selama ini konflik yang dipahami oleh kebanyakan orang adalah konflik yang
ada diluar dari islam nusantara. Padahal, Didalam tubuh islam nusantara sendiri itu
juga memiliki konflik yang mana sebenarnya hal itu yang menjadi pokok
permasalahan sentral yang mana bisa mengancam islam nusantara itu sendiri. Dari
sini dirasa penting untuk melakukan penelitian lebih lanjut apakah benar ini konflik
atau tidak
c. Kaitan atau Alasan Isu/Tema Tersebut Dengan Al-Qur’an
Penelitian ini nantinya terkait dengan ayat Al-Qur’an Surah al-Hujuraat ayat
13, yaitu: "Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersukusuku
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling
mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
Subtansi yang terdapat dari ayat diatas adalah terkait dengan diciptakannya
manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Dan mengenai hal inilah menurut Ralf
Dahrendorf titik permasalahan yang akan menimbulkan konflik.
Secara sederhana penyebab konflik dibagi dua, yaitu:
a) Kemajemukan horizontal, yang artinya adalah struktur masyarakat
yang mejemuk secara kultural, seperti suku bangsa, agama, ras dan
majemuk sosial dalam arti perbedaan pekerjaan dan profesi seperti
petani, buruh, pedagang, pengusaha, pegawai negeri, militer,
wartawan, alim ulama, sopir dan cendekiawan. Kemajemukan
horizontal-kultural menimbulkan konflik yang masing-masing unsur
kultural tersebut mempunyai karakteristik sendiri dan masing-masing
penghayat budaya tersebut ingin mempertahankan karakteristik
budayanya tersebut. Dalam masyarakat yang strukturnya seperti ini,
jika belum ada konsensus nilai yang menjadi pegangan bersama,
konflik yang terjadi dapat menimbulkan perang saudara.
b) Kemajemukan vertikal, yang artinya struktur masyarakat yang
terpolarisasi berdasarkan kekayaan, pendidikan, dan kekuasaan.
Kemajemukan vertikal dapat menimbulkan konflik sosial kerena ada
sekelompok kecil masyarakat yang memiliki kekayaan, pendidikan
yang mapan, kekuasaan dan kewenangan yang besar, sementara
sebagian besar tidak atau kurang memiliki kekayaan, pendidikan
rendah, dan tidak memiliki kekuasaan dan kewenangan. Pembagian
masyarakat seperti ini merupakan benih subur bagi timbulnya konflik
sosial.1
d. Kontribusi
Adapun kontribusi dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi khazanah
keilmuan. Terlebih terhadap kajian keilmuan isu-isu aktual dalam Al-
Qur’an.
2. Diharapkan dapat memperjelas pemahaman atas isu-isu yang berkembang
dimasyarakat yang terkait dengan islam Nusantara dan konflik.
e. Fokus Masalah Yang Akan Dibahas (Rumusan Masalah)
Untuk itu, penting rasanya dilakukan penelitian yang fokus akan fakta
tersebut. Dan kiranya, penelitian ini akan difokuskan pada penelitian lapangan dengan
menentukan ruang lingkup tertentu sebagai subjek penelitiannya. Dan nantinya dalam
hal tersebut akan dirumuskan beberapa persoalan, yakni apakah memang benar
persoalan yang terjadi dalam interen tubuh islam nusantara disebut konflik. Bagai
mana pandangan dosen IAT dalam menyelesaikan persoalan ini.
Kerangka Teori dan Penerapannya
Kaca mata yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan
teori konfliknya Ralf Dahrendorf yang mana teori ini dibangun dalam rangka untuk
menentang secara langsung terhadap teori Fungsional Struktural dan akibat berbagai
kritik, yang berasal dari sumber lain seperti teori Marxian dan pemikiran konflik
sosial dari Simmel.
1 Elly M. Setiadi dan Usman Kolip, Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala
Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya (Jakarta: Kencana Prenada Media
Group, 2011), hal 361.
Dahrendorf adalah tokoh yang berpendirian bahwa masyarakat mempunyai
dua wajah (konflik dan konsensus) dan karena itu teori sosiologi harus dibagi menjadi
dua bagian: teori konflik dan teori konsensus. Teoritisi konsensus harus menguji nilai
integrasi dalam masyarakat dan teoritisi konflik harus menguji konflik kepentingan
dan penggunaan kekerasan yang mengikat masyarakat bersama dihadapan tekanan itu.
Dahrendorf mengakui bahwa masyarakat tak kan ada tanpa konsensus dan konflik
yang menjadi persyaratan satu sama lain. Jadi, kita tidak akan punya konflik kecuali
ada konsensus sebelumnya.2
Oritas, Dahrendorf memusatkan perhatian pada struktur sosial yang lebih luas.
Inti tesisnya adalah gagasan bahwa berbagai posisi didalam masyarakat mempunyai
kualitas otoritas yang berbeda. Otoritas tidak terletak di dalam diri individu, tetapi di
dalam posisi. Dahrendorf tidak hanya tertarik pada struktur posisi, tetapi juga pada
konflik antara berbagai struktur posisi itu: “sumber struktur konflik harus dicari di
dalam tatanan peran sosial yang berpotensi untuk mendominasi atau ditundukkan”.
Menurut Dahrendorf tugas pertama analisis konflik adalah mengidentifikasi berbagai
peran otoritas di dalam masyarakat karena memusatkan perhatian kepada struktur
berskala luas seperti peran otoritas itu.
Otoritas yang melekat pada posisi adalah unsur kunci dalam analisis
Dahrendorf. Otoritas secara tersirat menyatakan superordinasi dan subordinasi.
Mereka yang menduduki posisi otoritas diharapkan mengendalikan bawahan. Artinya,
mereka berkuasa karena harapan dari orang yang berada di sekitar mereka, bukan
karena ciri-ciri psikologis mereka sendiri. Seperti otoritas, harapan ini pun melekat
pada posisi, bukan pada orangnya. Otoritas bukanlah fenomena sosial yang umum
mereka yang tunduk pada kontrol dan mereka yang dibebaskan dari kontrol,
ditentukan dalam masyarakat. Terakhir karena otoritas adalah absah, sanksi dapat
dijatuhkan pada pihak yang menentang. Menurut Dahrendorf, otoritas tidak konstan
karena ia terletak dalam posisi, bukan di dalam diri orangnya. Karena itu seseorang
yang berwenang dalam satu lingkungan tertentu tak harus memegang posisi otoritas di
dalam lingkungan yang lain. Ini berasal dari argumen.
2 George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, (Jakarta: Prenada Media,
2004), hal.154.
kelompok kepentingan terbentuk dari kelompok semu yang lebih luas.
Kelompok kepentingan ini mempunyai struktur, organisasi, program, tujuan serta
anggota yang jelas. Kelompok kepentingan inilah yang menjadi sumber nyata
timbulnya konflik dalam masyarakat.3
Lebih lanjut Ralf Dahrendorf membagi kelompok masyarakat menjadi tiga
kelompok diantaranya adalah sebagai berikut:
a) Kelompok semu (quasi group)
b) Kelompok kepentingan (manifest)
c) Kelompok konflik
Berangkat dari kerangka teori diatas Penulis mencoba untuk mengamati lebih
jauh bahwa struktur dalam islam nusantara itu terdapat perbedaan kepentingan. Yaitu
antara struktur atas dengan struktur bawah. adapun jika dikaitkan dengan teori ini
struk atas itu mencakup kelompok semu dan kelompok kepentingan sedangkan
struktur bawah yaitu kelompok konflik.
Adapun yang membedakan antara struktur atas dan struktur bawah yaitu ada
dan tidak adanya otoritas. Karena struktur atas memiliki otoritas sedangkan struktur
yang bawah tidak memiliki otoritas, hal ini yang menimbulkan kepentingan pada
struktur bawah.
Lebih kongkritnya dalam hal ini diamsumsikan Buya Yahya termasuk dalam
kelompok konflik sedangkan Aqil Siraj termasuk dalam kelompok kepentingan dan
Ulil Abshor masuk dalam kelompok semu. Adapun alasan dari asumsi penulis diatas
memasukkan Buya Yahya dalam kelompok konflik, karena beliau tidak setuju
terhadap pendiri islam nusantara bukan pada lebel penamaannya. Sementara itu alasan
penulis memasukkan Aqil Siraj dalam kelompok kepentingan karena beliau beliau
termasuk struktur atas. Sedangkan Ulil Abshor alasan penulis memasukkannya pada
kelompok semu karena beliau termasuk penggagas islam nusantara tetapi tidak
memiliki power.
Dan akhirnya teori ini penulis rasa sesuai dijadikan sebagai kaca mata dalam
menganalisis persoalan ini.
3 George Ritzer, Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, (Jakarta: Prenada Media
Group, 2007), hal. 153
Guidline wawancara
Adapun rumusan pertanyaan dalam wawancara adalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian Islam Nusantara menurut bapak?
2. Apa tujuandidirikannya Islam Nusantara menurut bapak?
3. Menurut bapak apakah realitasnya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh
tujuan didirikannya islan nusantara?
4. Bagai mana pendapat bapak menilai terkait komentar Buya Yahya tentang
islam nusantara
"Adapun islam Nusantara, penanya menyebut 2 nama, Ulil dan
Azyumardi Azra. Ini adalah tokoh-tokoh yang membuat kerusakan
di atas bumi ini. Adapun dia saat membawa nama ormas Indonesia
(PBNU) ya terjerumus. Kita tidak bicara tentang Islam
Nusantaranya. Terserah namanya apa itu ga penting. Tapi siapa
orang yang didalamnya yang menghidupannya itu lho yang jadi
masalah. islam Nusantara kalau secara istilah ya boleh saja kenapa
tidak ? Kita membuat Islam Cirebon saja, ya ga ada masalah asal
aqidahnya bener, cuman manusianya itu siapa ? Lha kalau manusia
yang disebut tadi (ulil dan azyumardi azra) yang telah mencetuskan
islam yang aneh-aneh islam liberal tadi, ya berarti dia mau pakai
baju yang beda lagi barangkali bisa diterima dengan baju yang baru
ini."
"kalau misalnya pengurus besar ormas indoneisa Nahdatul Ulama
kok setuju ini perlu dikoreksi kenapa nyetujui yang demikian?
wong tokohnya itu liberal. Ini kita ga bicara tentang organisasinya,
tapi siapa manusia yang berjuang di dalamnya ? Kalau ternyata
besok ada perkumpulan Islam Indonesia misalnya yang ingin
mengembalikan kepada Islam Indonesia beberapa tahun yang lalu
yang tidak ada olok olokan dan caci maki, bisa dan itu sah. Siapa
pelakunya? Ternyata mendatangkan ulama-ulama yang jelas,
tokoh-tokoh besar yang diakui. Ya benar.”
"Tapi kalau kita membuat nama nama baru biarpun namanya sama
dengan nama yang selama ini ada, baik. misalnya Islam Walisongo,
namanya kan hebat . Tapi kalau pelakunya orang yang membuat
kerusakan yang disebut tadi (Ulil dan Azyumardi Azra) ya jangan
dong. masalah Istilah saya ga peduli dengan istilah. Tapi isinya
siapa yang berjuang ? kalau orang yang berjuang orang liberal, itu
hanya pakai baju baru untuk lebih tajem dalam menipunya. Kalau
ada ketua sebuah Ormas yang menyetujui (Said Aqil Sirodj), Lha
ini kok bisa nyetujui begitu gimana urusannya? Kalau nyetujui
kebatilan berarti seneng kebatilan dong? jadi kita tidak mengkritisi
tentang nama Islam Nusantara, tapi siapa orang orang yang
berjuang di dalamnya."
5. Bagaimana pendapat anda tentang ayat Al-Qur’an Surah al-Hujuraat
ayat 13, yaitu: "Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang lakilaki
dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa
diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
Jika dikaitkan dengan konflik dan bagai mana menyikapinya ?
6. Apakah fenomena Buya Yahya ini bisa di sebut konflik ?
Transkrip Wawancara I
1. Bapak Indal Abrar
- “Islam Nusantara adalah Islam yang dipahami dan dan yang
berkembang di Nusantara”
- “sebagai sebuah anti-tesis perkembangan Islam Trans-Nasional
yang memanas”
- “tentunya ini perlu yang namanya proses tapi setidaknya sudah
mendekati. yaa walaupun masih terdapat pro dan kontra terkait
islam nusantara itu sendiri”
- “Menurut saya komentar buya yahya terkait orang yang mendirikan
Islam Nusantara itu bukan menjadi sebuah masalah”
- “sabab nuzĂ»l ayat ini mengisyaratkan bahwa ayat ini turun sebagai
larangan memuliakan atau melecehkan manusia berdasarkan
keturunan, kesukuan, maupun kebangsaan. Maka, secara umum
ayat ini tidak ada kaitannya dengan konflik yang sedang di teliti
akan tetapi kalau kita kaitkan setidaknya ayat itu menjelaskan
tentang tidak boleh saling membanggakan diri dan merasa lebih
mulia daripada yang lain” begitu juga jika dikaitkan dengan
komentar Buya Yahya yang menilai orang dibalik Islam Nusantara
itu yang sebenarnya bermasalah bukan masalah penamaannya.
- Tidak
Transkrip Wawancara II
2. Bapak Yusuf
- “Islam sinkretik yang merupakan gabungan nilai Islam teologis dengan
nilai-nilai tradisi lokal (non teologis), budaya, dan adat istiadat di Tanah
Air”
- “Bukan lebih pada ideologi tetapi lebih kepada aktualisasinya pada
indonesia”
- Kalau mengacu pada tujuan islam nusantara sendiri sudah
- Saya Setuju dengan pendapatnya Buya Yahya. jadi kita juga harus
mengkritik baik mulai dari atas sampai kebawahnya lebih tepatnya kita
harus mengritik siapa yang di angkat jadi pemimpinnya apakah sudah
memenuhi keretria seorang pemimpin atau belum.
- Ayat ini secara umum kurang tepat kalau di kaitkan dengan kasus
penelitian penulis.
- Iya apalagi kalau kita lihat beliau dari bagian islam nusantara itu sendiri
Analisa Deskriptif
Dari hasil wawancara sederhana terhadap dua dosen ilmu Al-Qur’an dan
Tafsir Diatas, di sini ada dua model klasifikasikan mengenai kasusu yang sedang
diteliti. Adalah model yang memahami bahwa kasus diatas sebagai konflik dan yang
memahami sebagai bukan konflik. Adapun pendapat yang pertama mengatakan itu
bukan konflik karena komentarnya Buya Yayah menurutnya itu bukanlah masalah
dan hal itu wajar. Sedangkan yang kedua mengatakan itu bagian dari konflik karena
beliau setuju dengan pendapat Buya Yahya.
Dari klasifikasi inilah kemudian peneliti mencoba menyelam lebih dalam lagi
terkait kasus yang sedang diteliti dengan kaca mata metodologinya Dahrendorf yang
mengatakan kelompok kepentingan terbentuk dari kelompok semu yang lebih luas.
Kelompok kepentingan ini mempunyai struktur, organisasi, program, tujuan serta
anggota yang jelas. Kelompok kepentingan inilah yang menjadi sumber nyata
timbulnya konflik dalam masyarakat masarakat.
Sampai disini peneliti mengambil kesimpulan bahwasanya setiap struktur itu
pasti ada yang namanya konflik karena pada prinsipnya konflik itu sendiri tidak
terlepas antara satu dengan yang lain hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh
Dahrendorf mengakui bahwa masyarakat tak kan ada tanpa konsensus dan konflik
yang menjadi persyaratan satu sama lain.
Yang menjadi kelompok konflik dalam kasus ini iyalah Buya Yahya karena
beliau termasuk dalam bagian dari islam nusantara akan tetapi dia tidak memiliki
otoritas berbeda dengan kelompok kepentingan dan semua.

Rabu, 21 Januari 2015

Akulturasi Islam dengan Budaya di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung


A.   Pembahasan
Pengertian Akulturasi
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah kita dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.[1] Jadi akulturasi ialah perpaduan antara dua kelompok atau lebih yang saling bergantungan tetapi tidak menyebabkan kebudayaan antara dua kelompok tersebut hilang.
Akulturasi Islam dengan Budaya di Bangka Belitung
Bangka Belitung, provinsi yang ada di Indonesia ini terkenal akan keindahan panorama pantainya. Puluhan pantai dengan hiasan batu granit super besar menjadi daya tarik tersendiri bagi pariwisata Bangka Belitung. Terkenal juga setelah pulau Bangka dijadikan lokasi syuting film Laskar Pelangi yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata tersebut, pulau ini semakin dikenal banyak orang walau tidak semuanya, mereka mengenal pulau ini sudah pasti tahu akan keindahan alam Bangka Belitung. Namun tidak banyak yang tahu mengenai adat istiadat masyarakat Bangka Belitung. Di dalam perkembangannya adat istiadat Bangka Belitung tak bisa dilepaskan dari pengaruh dominasi Islam. Perubahan kebudayaan mulai terjadi di masyarakat Bangka ketika Belanda dan China mulai mengexploitasi timah di Bangka. Akulturasi dan inkulturasi budaya ini terlihat dalam pakaian pengantin adat yang diwarnai nuansa budaya China khususnya pada warna dan mahkota yang dikenakan pengantin perempuan. Tak hanya itu beberapa akulturasi juga terjadi pada kesenian-keseniannya.
Rasanya segala yang disuguhkan di Bangka selalu indah dan menarik untuk dinikmati. Tak terkecuali adat istiadanya yang kaya dan beragam. Beberapa akultulturasi budaya islam di Bangka Belitung yang perlu diketahui, yang meliputi bidang-bidang sebagai berikut:
1.      Bidang Pemikiran
·         Kepunan
Kepunan, Seperti halnya Pamali, Tabu, Pantangan dan semacamnya di Bangka lebih dikenal kata-kata dengan sebutan arus, kepunan atau kepon, malet dan lainnya (bahasa bangka). Untuk kepon (kepunan) dan malet merupakan satu rangkaian adat dan kebiasaan bangka. Agak susah juga untuk didefinisikan lebih jelas. Pada dasarnya kedua kata itu (kepon dan malet) berhubungan dengan, tidaklah baik kamu menolak makan/minum ataupun sekedar mencicipi suatu makanan/minuman yang disuguhkan orang lain. Hal ini telah menjadi suatu kebiasaan yang telah lama melekat dalam adat istiadat masyarakat Bangka Belitung. Terlebih lagi bila kita akan pergi ke sungai, hutan, laut, atau kemana saja. Imbas dari sikap kita yang “kalo” tidak mencicipi makanan/minuman tersebut, kadangkala dan sering terjadi hal-hal yang bisa mendatangkan musibah. Katakanlah nasib sial akan mengikuti kita. Misalnya mengalami kecelakaan, bertemu hantu, digigit binatang buas/berbahaya dan lainnya.
Untuk menangkal dan sebagai tindakan penawar kepon, dikenal istilah malet. Malet adalah sikap kita dengan mencicipi makanan atau minuman itu dengan menyentuh menggunakan ujung jari dan dicicipi dilidah. Kadangkala ujung jari yang sudah disentuh dengan makanan/minuman itu cukup disentuhkan pada tangan kita.
Untuk makanan dan minuman yang sangat vital akan adat istiadat kepon dan malet ini adalah:
1.       Kopi , terutama kopi hitam (kopi kampung). Kalo NESCAFE dan lainnya, tetep juga  katanya.
2.       Nasi , bisa meliputi nasi bubur, nasi goreng dan semacamnya.
3.       Makanan yang terbuat dari beras ketan dan berbagai hasil pertanian yang dihasilkan sendiri.
Terlepas dari adanya korelasi KEBETULAN dan KETETAPAN ILAHI atas budaya kepon dan malet ini, adat dan istiadat ini masih berkembang di masyarakat Bangka Belitung hingga saat ini. Dan gak ada salahnya bila kita ditawari makanan/minuman di Bangka, janganlah menolak untuk mencicipinya. Paling gak malet saja.[2]

2.      Bidang Ritual Kebudayaan/ Keagamaan
·         Sepintu Sedulang
Sepindu sedulang dalam bahasa Bangka bermakna adanya persautan dan kesatuan, atau dalam masyarakat Jawa dinamakan gotong royong. Adat sepidu sedulang ini merupakan kegiatan yang dilakukan penduduk Bangka pada waktu diadakan pesta kampung. Mereka yang datang membawa dulang (wadah) yang berisi makanan untuk dihidangkan kepada tamu yang datang di balai adat. Kegiatan ini menjadi cerminan bahwa masyarakat Bangka mempunyai rasa toleransi dan rasa persaudaraan yang kuat. Biasaya kegiatan sepindu sedulang ini dilakukan ketika ada acara-acara adat, peringatan hari besar keagamaan, perkawinan, kematian, maupun pada saat panen lada yang merupakan komoditi utama masyarakat Bangka selain tambang timahnya.
Jiwa gotong royong masyarakat Bangka cukup tinggi. Warga masyarakat akan mengulurkan tangannya membantu jika ada anggota warganya memerlukanya. Semua ini berjalan dengan dilandasi jiwa Sepintu Sedulang. Jiwa ini dapat disaksikan, misalnya pada saat panen lada, acara-acara adat, peringatan hari-hari besar keagamaan, perkawianan dan kematian. Acara ini lebih dikenal dengan sebutan “Nganggung”, yaitu kegiatan setiap rumah mengantarkan makanan dengan menggunakan dulang, yakni baki bulat besar.

·         Perang Ketupat
Perang ketupat merupakan salah satu ritual upacara masyarakat Tempilang, salah satu kecamatan di Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung. Pesta adat perang ketupat diadakan menjelang awal Ramadhan. Acara ini ada setahun sekali di Pantai Pasir Kuning. Saat itu, warga dari kota dan kabupaten di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung beramai-ramai datang ke pantai ini.

Tiada catatan sejarah yang pasti mengenai kapan pertama kali ada tradisi perang ketupat. Ada yang mengatakan perang ketupat dimulai sejak masa penjajahan Portugis. Ada juga yang berpendapat tradisi ini telah ada saat Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus pada 1883. Pendapat lain mengatakan, kegiatan ini berlangsung sejak masyarakat belum mengenal agama. Tradisi ini memiliki lima bagian, yaitu penimbongan, ngancak, perang ketupat, nganyot perae, dan taber kampong. Penimbong adalah memberikan makanan kepada makhluk halus yang dipercaya bertempat tinggal di darat. Dalam mitosnya, makhluk halus meliputi makhluk halus baik yang diyakini sebagai penjaga masyarakat kampung terhadap serangan makhluk jahat dari luar Desa Tempilang. Prosesi acara penimbong bertambah semarak dengan tari Campak, tari Serimbang, tari Kedidi, dan tari Seramao. Satu hal yang pasti, perang ketupat berlangsung lama sekali secara turun-temurun hingga sekarang.[3]

Sebagai wisata budaya, perang ketupat menarik minat wisatawan lokal, nasional, hingga mancanegara. Terbukti dari kehadiran turis dari sejumlah daerah yang datang untuk menyaksikan atraksi ini. Dahulu, hanya penduduk Desa Tempilang yang sering menyaksikan kegiatan ini.
Namun, sekarang, rangkaian acara terbuka untuk umum dan berlangsung secara besar-besaran, termasuk berbagai panggung untuk pentas budaya dan pentas hiburan artis lokal dan Ibu Kota. Ritual berikutnya, ngangcak, yakni pemberian makanan kepada makhluk-makhluk halus yang bermukim di laut, terutama buaya. Setelah proses ritual penimbong dan ngancak, proses perang ketupat pun berlangsung. Untuk acara ini, panitia menyediakan ratusan ketupat sebagai peluru. Selama dua menit, dua regu dari peserta yang dipilih secara acak berhadapan dan penonton saling melempar ketupat. Setelah itu, mereka saling memaafkan sebagai simbol mempererat silaturahim, saling memaafkan, dan meningkatkan rasa persaudaraan. Sungguh, acara ini sekaligus menampilkan bahwa masyarakat Tempilang mengembangkan rasa persaudaraan sejak ratusan tahun silam. Itu sebabnya kaum muda di daerah Bangka menggemari kegiatan ini. Banyak pemuda datang dari jauh atau pulang dari perantauan hanya untuk menghadiri acara ini. Seusai perang ketupat adalah prosesi ngayok perae yang berarti menghanyutkan perahu. Sebagai penutup seluruh prosesi, ritual taber kampong, yakni menabur kampung dengan air tabur dan bunga pinang, dengan harapan seluruh rumah masyarakat Desa Tempilang terhindar dari bencana dalam setahun ke depan.

·         Nuju jerami
Tradisi nuju jerami merupakan prosesi adat yang dilaksanakan bertepatan dengan masa panen padi. Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan syukur masyarakat Bangka kepada Tuhan atas melimpahnya panen padi dan juga sebagai permohonan untuk kelimpahan hasil pada masa datang. Namun sayangnya tradisi adat ini sudah jarang dilakukan oleh masyarakat Bangka, hanya dusun Air Abik, desa Gunung Muda, Belinyu saja yang masih melaksanakan tradisi ini. Masyarakat di desa tersebut masih melestarikan dan melanjutkan kebiasaan menanam padi. Hal yang menarik dari tradisi ini nampak pada suasana desa yang ramai seperti suasana lebaran. Masyarakat saling bersilaturahim dan saling berkunjung ke handaitaulan maupung tetangga. Disamping itu, setiap rumah di desa tersebut juga menyediakan jamuan untuk menghargai dan menyambut tamu yang datang. Sungguh seperti suasana lebaran.
3.      Bidang Pranata Sosial
Pranata sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dalam hubungan yang berpusat kepada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi berbagai kebutuhan khusus dalam masyarakat. Pranata sosial berasal dari bahasa asing social institutions, itulah sebabnya ada beberapa ahli sosiologi yang mengartikannya sebagai lembaga kemasyarakatan, di antaranya adalah Soerjono Soekanto. Lembaga kemasyarakatan diartikan sebagai himpunan norma dari berbagai tindakan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan kata lain, pranata sosial merupakan kumpulan norma (sistem norma) dalam hubungannya dengan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat. [4]serta pranata sosial adalah sistem norma yang bertujuan untuk mengatur tindakan maupun kegiatan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok dan bermasyarakat bagi manusia. Beberapa pranata sosial didalam kehidupan masyarakat yang ada di Bangka Belitung yaitu:

1.      Gotong royong, yang dilakukan ketika menjelang hari-hari besar islam seperti Isra’ Mikhraj, Maulid Nabi dan hari Raya Islam. Gotong royong yaitu membersihkan masjid-masjid dan jalan raya untuk menyambut hari-hari besar tersebut supaya berjalan dengan lancar.
2.      Sumbangan untuk tampungan akhirat yang dilakukan secara suka rela yang diadakan oleh Masjid-masjid berdasarkan RT atau RW tertentu, sumbangan ini di lakukan satu bulan sekali untuk tabungan Masyarakat kedepannya, sebagai perlengkapan ketika dipanggil yang Maha Kuasa. Jadi para keluarga yang anggota keluarganya di tinggal mereka tidak repot-repot untuk mempersiapkan perlengkapan itu, serta sumbangan-sumbangan itulah untuk meringankan beban keluarga yang ditinggalkan.






4.      Bidang Kesenian

·         Alat Musik Tradisional
Ada beberapa alat musik tradisional yang berasal dari Bangka Belitung yang hingga saat ini masih digunakan dan dilestariakan yang digunakan ketika acara-acara besar ritual keagaman pernikahan, acara aqikah dan lain-lain yaitu:
a)      Dambus
Musik bangka tradisional sangat kental sekali dengan budaya melayu nya. Salah satu alat musik kebanggaan daerah bangka adalah Dambus. Dambus adalah semacam alat seperti gitar tapi memiliki karakteristik dan bunyi yang berbeda dengan gitar masa kini. Dambus biasanya dipakai untuk mengiringi acara2 adat, tari-tarian, atau acara lainnya. Dambus sebenarnya juga merupakan alat musik daerah2 melayu dan timur tengah menurut sejarah, namun dalam perkembangan nya ada yang membedakan dambus bangka dengan yang lainnya.
Namun seiring dengan perkembangan zaman jumlah senar pada Dambus ada yang empat dan ada yang enam. Alat musik Dambus biasanya dipakai dalam setiap alat musik tradisional Melayu yang bernuansa penyambutan,penghomatan, peringatan, perayaan, syukuran, maupun acara keagamaan. Alat musik Dambus juga biasanya dipakai untuk mengiringi tarian-tarian dan nyanyian-nyanyian khas Bangka Belitung, seperti tarian dan nyanyian Serumpun Sebalai.
b)      Rebana
Rebana juga termasuk salah satu alat musik tradisional Bangka Belitung. Alat musik yang satu ini sering dimainkan bersama-sama dengan dambus juga. Alat berbentuk seperti gendang ini dimainkan guna mengiringi musik dambus dan tarian atau dincak Bangka. Alat musik yang masuk dalam kategori alat musik pukul ini sering dimainkan pada acara festival seni daerah, qasidah pengajian-pengajian, ataupun untuk menyambut tamu istimewa dengan iring-iringan tertentu. Jika rebana ini ditepuk secara beramai-ramai dengan tempo yang cepat di Bangka dikenal dengan istilah rampak atau ngerampak.
Meskipun rebana ini juga dimainkan di daerah lain, namun alat musik rebana ini jika di Bangka Belitung seperti sudah menjadi kewajiban. Setiap-setiap acara yang diselenggarakan seperti festifal seni daerah, takbir keliling juga sering menggunakan rebana ini untuk mengisi lantunan musik dan vokal. Rebana sendiri adalah gendang berbentuk bundar dan pipih. Bingkainya terbuat dari kayu yang dibubut, salah satu bagiannya dilapisi dengan kulit kambing guna untuk ditepuk sehingga menimbulkan suara yang beragam.



c)      Gendang Melayu
Gendang Melayu merupakan alat bunyian yang dibuat dari kulit binatang seperti kerbau, kambing atau lembu. Gendang Melayu merupakan salah sebuah alat musik dalam keluarga genderang, yang bersumber bunyi melalui membraofon. cara memainkanya ditepuk dengan kedua telapak tangan.[5]

·         Senjata Tradisional

a)      Parang Bangka
Parang Bangka, bentuknya seperti layar kapal. Alat ini digunakan terutama untuk perkelahian jarak pendek. Senjata ini mirip dengan golok di Jawa, namun parang ini dibuat lebar dan beratnya guna meningkatkan bobot supaya sasaran dapat terpotong dengan cepat. Parang yang berdiameter sekitar 40 cm juga dapat digunakan untuk menebang pohon karena bobot ujungnya yang lebih besar dan lebih berat.
b)      Kedik
Kedik adalah alat tradisional yang digunakan sebagai alat pertanian. Alat ini digunakan diperkebunan terutama di kebun lada. Dalam menggunakannya si pemakai harus berjongkok dan bisa bergerak mundur serta menyamping. Alat ini digunakan dengan cara diletakkan pada tanah dan ditarik ke belakang. Alat ini efektif untuk membersihkan rumput penggangu tanaman lada atau untuk membersihkan taman serta halaman rumah. Kedik biasanya digunakan oleh kaum wanita karena alatnya kecil dan relatif ringan. Kedik hanya dapat digunakan untuk rumput jenis yang kecil atau rumput yang tumbuh dengan akar yang dangkal.
c)      Siwar Panjang
Sejata semacam pedang yang bentuknya runcing mirip dengan mata tombak. Gagangnya melingkar dan lurus tanpa lekukan seperti gagang keris. Siwar atau sering juga disebut tumbak lado adalah suatu artefak yang berupa senjata tusuk genggam yang bentuknya menyerupai golok panjang dengan tajaman di salah satu sisi bilahnya. Senjata ini mempunyai kedudukan yang penting bagi seseorang, sehingga fungsinya tidak hanya sebagai alat untuk mempertahankan diri, melainkan juga sebagai benda keramat.
Selain contoh di atas masih banyak lagi adat istiadat serta kesenian-kesenian Bangka yang layak untuk dilestarikan dan difasilitasi agar kekayaan budaya bangsa ini tidak hilang. Hal ini akan menambah keindahan Bangka yang terkenal dengan pesona wisata baharinya. Semoga adat istiadat Bangka akan selalu lestari dan indah selayaknya keindahan pantainya.

© Riza Ashman 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis